Select Menu

.

.

Slider

Seputar Kampus

Kontributor

Cute

My Place

SLIDE

Racing

Videos


Sabtu (18/10) pagi, tepatnya pukul 08.00 WIB, Kampus BSI cabang Kalimalang telah ramai oleh mahasiswa dari berbagai kampus. Tak hanya dari BSI, juga ada dari STIE Adikarya dan STMIK Bina Insani. Selain mahasiswa, juga hadir siswa-siswi SMA maupun SMK di kampus yang beralamat di Jl. SMA Kapin No. 292 A, Kalimalang, Jakarta Timur ini. Diantaranya siswa dari SMK Terartai Putih, SMKT Kapin, SMA Kapin, dan SMK Kawula Indonesia.

Acara seminar kebangsaan ini telah dilaksanakan sebanyak tiga kali di cabang-cabang kampus BSI. Yang pertama di BSI Kaliabang, kedua dan ketiga di BSI Kalimalang. Tentunya setiap seminar dilaksanakan dengan tema yang berbeda dan narasumber yang juga berbeda. Kali ini, BSI mengangkat tema “Sumpah Pemuda Sebagai Momentum Pembentukan Karakter Bangsa Yang Bermartabat” dan menghadirkan narasumber-narasumber yang tentunya selaras dengan tema yang diangkat dalam seminar kebangsaan kali ini. Yaitu H. Syamsul Bahri, MM, M.Kom, selaku Pudir III Bidang Kemahasiswaan BSI, juga ada Tommy Kurniawan, publik figur yang tak asing lagi oleh kita, dan Agung Solihin, Trainer SCB. Dan Ahmad Yani, selaku moderator acara ini.

 “Memberi pencerahan pada generasi muda, cinta bangsa, dan negara, juga untuk mengembangkan rasa nasionalisme.” Kata Ahmad Yani, saat ditanyai mengenai tujuan acara. “Acara ini juga sebagai ajang promosi BSI untuk para siswa undangan, agar mereka tau, di BSI itu beda, tidak ada ospek seperti yang umumnya mereka bayangkan.” Tambah Slamet Heri, koordinator bidang kemahasiswaan BSI.

Dalam proses menyelenggarakan seminar ini, tentu saja panitia menghadapi kendala. “Pihak BSI mengundang banyak sekolah dan perguruan tinggi lain, namun belum begitu banyak perwakilan yang datang untuk menghadiri seminar ini.” Ungkap Slamet.  “Alasan kami mengundang Tommy Kurniawan, selain untuk daya tarik, beliau kan juga representatif mewakili pemuda. Sedangkan Agung Solihin , beliau mampu membangkitkan semangat anak-anak.” Tambahnya.

Dalam seminar ini, juga terdapat doorprize untuk 15 peserta beruntung. Hadiah tersebut diantaranya merupakan kado, flashdisk, dan tablet. “Seminarnya bagus, memotivasi jiwa muda. Juga ada siswa SMA, mereka kan penerus bangsa.” Kata Winda, perwakilan Senat Mahasiswa Kramat 18. Acara ini berlangsung sampai dengan pukul 12.00, setelah dilakukan foto bersama, peserta dapat mengambil sertifikat saat keluar dari ruang seminar.

“Semoga seminar ini dapat berkesinambungan dan lebih besar lagi.” Kata Ahmad Yani, moderator sekaligus Ketua Panitia Penyelenggara Seminar Kebangsaan. “Juga perlu dilestarikan dengan tingkatan lebih bermanfaat, silaturahmi antar elemen juga lebih terjalin. Dan peserta lebih banyak lagi dari berbagai kalangan.” Tambah Slamet, sebagai pembawa acara pada seminar ini. (marissa)

- -



“Dobrak! Dobrak! Dobrak! Kita harus dobrak pintu ini. Harus! Dobrak! Dobrak!” teriak seorang lelaki bernama Mutholib berusaha mendobrak pintu sebuah ruangan penjara bawah tanah yang lembab dan jauh dari peradaban. Ruang penjara bawah tanah inilah yang dibawa oleh Zak Sorga, sebagai penulis naskah dan sutradara, ke atas pentas Gedung Kesenian Jakarta 21 hingga 23 Oktober mendatang.

Naskah yang awalnya berjudul Melawan Arus ini ditulis pada tahun 1999 sebagai respon atas kondisi di sebuah negeri dimana tiran dan kekuasaan menjadi dominan, menginjak rakyat yang ratusan juta banyaknya, namun termarjinalkan. Merasa tema ini masih aktual dan timeless, Zak Sorga kemudian menulis ulang naskah pada tahun 2009. Dengan pemantapan struktur dan akhir ceritanya, naskah ini kemudian bertransformasi dengan judul Penghuni Kapal Selam.

Analogi penjara bawah tanah sebagai kapal selam, dimana penghuninya jauh mencapai permukaan, agaknya tepat karena dalam kehidupan nyata banyak orang yang dibungkam dan tak jelas rimbanya, mereka seperti hilang ditelan bumi. Massa dan berita mudah muncul dengan segala opininya, mudah pula tenggelam, begitu seterusnya seperti buih.

Dengan didukung oleh pemain yang berasal dari berbagai latar belakang dan usia, Penghuni Kapal Selam berisikan sepuluh orang ‘berbahaya’ dan pengintimidasi yang culas; Abdul Ghofar, aktivis dakwah senior dengan karakternya yang tenang dan berwibawa, ia adalah orang yang paling ditakuti oleh para sipir; Abdul Muthalib, politikus tua yang stres berat karena dipenjara bertahun-tahun, selalu menggedor-gedor pintu sel, sambil mengacungkan pisaunya dan berteriak-teriak ingin membunuh orang yang telah menangkapnya; Jerio, orator dan aktifis politik yang ambisius, selalu bermimpi jadi orang besar yang akan memimpin negeri ini, berlagak suci dan kuat, padahal sejatinya dia suka menangis sendirian karena menyesali nasibnya; Yon, aktivis dakwah, dipenjara sejak muda, wajahnya bopeng akibat siksaan dan disunduti rokok oleh para algojo saat diinterogasi, ia labil dan gampang percaya pada kebaikan orang; Kukuh, mahasiswa separuh gila akibat siksaan saat diinterogasi, ia selalu ketakutan dan terus berlari-lari karena merasa dikejar-kejar oleh aparat;

Pi’i, mantan tukang es yang bercita- cita untuk terus jualan es kalau sudah bebas nanti; Prawoto, mantan pemimpin perampok yang ingin bertobat, tapi malah diciduk dan dijebloskan dalam penjara, ia telah disiksa sampai buta; Sokle, tukang bengkel elektronik yang dituduh sebagai penggerak massa, jalannya menggelesot-gelesot karena kakinya lumpuh akibat siksaan; Sang Sipir, merasa berkuasa dan kuat dengan mengintimidasi para tahanan, namun dalam hati bertanya siapa yang terpenjara; Juru Runding, berpenampilan perlente, dia pintar sekaligus licik; Si Kutu Buku, pendiam dan misterius.

Siapa sebenarnya para penghuni penjara bawah tanah itu? Siapa pula yang menjebloskan mereka? Sampai kapan mereka diasingkan? Apa pula yang dicari di negeri penuh kepalsuan dan kekerasan tanpa mengenal waktu? Melalui Penghuni Kapal Selam, Teater Kanvas menyuguhkan suatu tontonan satir nan segar yang bisa jadi perenungan banyak orang. (teater-kanvas)
-
Berbagai gerakan yang pernah hadir di Indonesia selalu didasari oleh kesukuan, religi, dan status sosial karena terjadinya suatu komunitas atau gerakan tak bisa tanpa adanya sikap etnosentrisme itu sendiri. Terlebih lagi adanya suatu sikap yang memberi pengaruh buruk dalam kehidupanya, seperti gerakan-gerakan yang didasari oleh kenyataan kehidupannya yang mengalami suatu kemunduran. Ada pula gerakan atau organisasi yang berusaha untuk keluar dari belenggu tersebut menuju suatu yang damai sejahtera. Pada masa kolonial Belanda banyak terjadi pemberontakan atas kesewenang-wenangan tuan tanah dan juga pemerintah kolonial. Tepatnya di daerah Pasar Rebo, Jakarta Timur, muncul suatu gerakan yang disebut dengan nama Gerakan Entong Gendut.

Jejak Rekam Sang Jawara Condet
Dalam sejarah ada banyak jawara Betawi yang terkenal sampai saat ini seperti Pitung, Jampang, Piih, Sabeni, atau Wan Kadir. Dari deretan nama-nama tersebut terselip satu tokoh dalam perjuangannya melawan pemerintahan kolonial, H. Entong Gendut. Mungkin jarang kita dengar, namun kisah heroiknya patut kita teladani dan mengingatkan bahwa DKI Jakarta begitu banyak menyimpan sejarah dan tokoh penting dalam gerakan pemberontakan. Berbeda dengan jawara-jawara Betawi lainnya, H. Entong Gendut benar-benar mengonsep sebuah gerakan pemuda di Condet yang cukup apik karena selain jawara ia juga adalah seorang haji.

Panggung sejarah mulai merekam aksi Entong Gendut pada tahun 1912, yaitu saat Landrad di Mesteer Cornelis (sekarang pasar Jatinegara) memberlakukan peraturan yang berkaitan dengan keagrariaan yang pada zaman itu lebih dikenal dengan istilah Tuan Tanah. Maka Jaan Ameen Tuan Tanah untuk sub distrik Pasar Rebo yang kerap melayangkan pengaduan ke Landrad perihal tunggakan upeti hasil bumi penduduk Condet dinilai terlalu manja.

Pengaduan itu berakibat disitanya rumah-rumah dan tanah-tanah penduduk Condet, bahkan tak sedikit rumah penduduk yang dibakar. Aksi sewenang-wenang ini semakin merajalela. Penduduk mulai marah. Gubernemen menjatuhkan sanski pada seorang penduduk  Condet yaitu seorang petani bernama Taba untuk membayar uang kepada tuan tanah sebesar 7.20 gulden pada bulan Maret 1916. Aparatur hukum kolonial memberikan peringatan pada Taba, agar patuh pada putusan tersebut jika tidak ingin harta benda miliknya disita pengadilan.  untuk membayar denda sejumlah 7.20 Gulden atau kalau tidak pihak Gubernemen akan menyita semua miliknya.

Kondisi obyektif demikian memunculkan banyak reaksi dari kalangan rakyat terhadap penindasan sistem kolonial. Tentu saja reaksi yang banyak muncul dari rakyat berupa amarah, kebencian, bahkan perlawanan terhadap kesewenang-wenangan kolonial dan tuan tanah. Salah satu reaksi yang bernuansa kemarahan hingga akhirnya termanifestasi dalam suatu perlawanan ialah reaksi yang ditampilkan oleh Entong Gendut. Beliau adalah seorang tokoh pendekar yang juga kesohor dengan nama Haji Entong Gendut. Ia memobilisasi warga Condet yang merasakan kebencian serupa terhadap kolonialisme untuk melakukan perlawanan secara terbuka.

Perlawanan frontal dari Entong Gendut dan kawan-kawan terjadi pada 5 April 1916 di depan Villa Nova, milik seorang tuan tanah Eropa yang bernama Lady Rollinson. Lady Rollinson adalah seorang Eropa yang memiliki tanah dengan areal sangat luas di daerah Cililitan. Pada saat itu, kelompok Entong Gendut melempari mobil milik tuan tanah dari Tanjung Oost  bernama Jaan Ament yang sedang berkunjung ke rumah Lady Rollinson sebagai tamu undangan dalam pesta yang diselenggarakan sang Lady.

Tak hanya sampai di situ, menjelang malam hari ketika pesta di villa Lady mencapai ‘klimaks’ nya, kelompok Entong Gendut membuat sabotase dan kerusuhan yang menyebabkan pesta tersebut berhenti. Peristiwa ini membuat nama Entong Gendut masuk daftar hitam perburuan aparat keamanan Belanda di Batavia.

Operasi Penangkapan H. Entong Gendut
Masih di bulan April 1916, Pemerintahan Hindia Belanda murka sebab ada perubahan sikap sosial yang dirasakan mereka terutama penentangan yang dilakukan penduduk terhadap segala kebijakan Belanda karena selama ini penduduk begitu patuh terhadap terhadap segala kebijakan yang telah diatur pemerintah Belanda, tapi sekarang berubah menjadi pemberontakan. Pihak Belanda akhirnya berfikir bahwa tentu ada sebabnya dari kejadian tentunya ada yang sengaja menggiring dan memobilisasi masyarakat untuk menentang pemerintah. Entong Gendut adalah biang keladi dari semuanya.

Berbagai upaya yang dilakukan pihak pemerintah kolonial untuk menangkap Entong Gendut pun dilakukan. Hingga akhirnya, Wedana dari Meester Cornelis dan pasukan polisi Belanda berhasil mengepung rumah Entong Gendut di daerah Batuampar pada pertengahan bulan April 1916. Entong Gendut  menghadapi Wedana dan pasukannya dengan membawa tombak, keris dan bendera merah berlambang bulan sabit putih.
Ketika Wedana akan menangkap dengan paksa Entong Gendut berteriak memberi aba-aba . “Sabilullah…, sabilullah…!” pasukannya mengamini. Pertempuran tak dapat dihindarkan. Karena teriakan itu keluar pengikut-pengikutnya dari tempat persembunyian dikebun salak yang terdapat di sekitar rumah Entong Gendut. Mereka semuanya bersenjata, jumlahnya kurang lebih 200 orang. Rombongan Wedana dan polisi kampung dikepung. Karena terancam rombongan Wedana dan polisi itu bubar menyelamatkan diri dan bersembunyi. Wedana yang bersembunyi akhirnya tertangkap dan ditawan oleh Entong Gendut.
Maka, sepandai pandai tupai melompat pasti jatuh juga. Setiap ada kekuatan pasti ada kelemahan.

 Dua kalimat ini berkaitan dengan Entong Gendut, mengandung makna pasrah menerima kekalahan atas kebatilan walau kadang sedang berdiri di posisi yang benar. Tega-teganya para spionase busuk dari kalangan pribumi itu membocorkan informasi gerakan bawah tanah yang sedang diprakarsai warga Condet demi kemerdekaan daerah dan bangsanya sendiri. Padahal Belanda hanya mengupahnya dengan uang yang jumlahnya tak seberapa. Lewat sebuah insiden di anak sungai Ciliwung, kampung Balekambang, para marsose yang telah menemukan kelemahan Entong Gendut itupun mengakhiri sepak terjang pahlawan Condet untuk selama-lamanya.

Wafatnya Entong Gendut
Dalam kisahnya ada dua kisah yang menyebutkan bahwa H. Entong Gendut meninggal dalam perjalanan karena pada saat itu ia berada pada barisan depan dan tertembak Wedana Pasar Rebo dan pembesar-pembesar polisi  perlawanan pada hari senin tanggal 10 April dini hari. Versi kedua berita tewasnya Entong Gendut adalah  ia meninggal ditembak di sungai Ciliwung Condet pada saat mengejar pasukan kolonial karena mendapatkan bocoran informasi dari pengkhianat bangsa kepada pihak Belanda bahwa Entong Gendut hanya bisa dibunuh saat berada di dalam sungai. Hari itu keberuntungan tidak sedang berpihak pada Entong Gendut. Dan pada hari itu Entong Gendut harus tewas diberondong oleh peluru-peluru laknat marsose.

Berita tewasnya Entong Gendut dengan cepat tersiar di seluruh kampung. Seluruh warga Kramat Jati, khususnya kampung Condet berkabung atas wafatnya pahlawan kebanggaan mereka. Suasana duka mendalam menyelimuti Condet. Sebaliknya, pihak Belanda dan gubernemen bersorak sorai kegirangan karena telah membunuh provokator yang selama ini sulit untuk ditangkap. Di landrad-landrad, dentingan “toast” gelas para pejabat militer Belanda mewarnai suasana perayaan kesuksesan penumpasan Entong Gendut. Akan tetapi, di luar sana sebuah peristiwa fenomenal telah terjadi. Ketika jenazah Entong Gendut yang terbungkus tikar diusung warga dengan pengawalan ketat para marsose, lalu jenazah itu diletakkan di suatu tempat. Ada beberapa versi yang menjelaskan tempat tersebut. Sebuah sumber mengatakan, tempat itu adalah rumah Entong Gendut. Sumber lain menyebutkan tempat itu semacam hospital atau klinik.

Namun terlepas dari berbagai versi itu, jenazah Entong Gendut tiba-tiba hilang secara misterius. Para marsose berikut penduduk yang ikut menyaksikan kejadian itu terhenyak seolah tak percaya apa yang mereka lihat. Bukan itu saja, mereka semua berusaha mencari ke mana jenazah penuh lumuran darah itu. Tapi yang dicari tidak juga ditemukan. Jenazah Entong Gendut raib bagai ditelan bumi. Akhirnya pencarian pun dinyatakan selesai oleh pihak Belanda. Setelah itu aktifitas kembali berjalan seperti biasa, denyut pemberontakan tak lagi pernah terdengar di kampung Condet, yaitu penduduk yang berada dalam kungkungan intimidasi dengan terpaksa kembali menyetor upeti penghasilan pada pihak Belanda.

Daftar Pustaka
Sumber buku dan dokumen :
Poesponegoro, Marwati Djoened dan Nugroho Notosusanto. 2008. Sejarah Nasional Indonesia Jilid IV. Jakarta: Balai Pustaka
Berita Acara dibuat oleh Asisten Wedana Pasar Rebo, Meester Cornelis (R. Pringgodimedjo), 17 April 1916 (Arsip Nasional Republik Indonesia)
Laporan dari Asisten Residen Meester Cornelis (D. Heyting) tentang pemberontakan di tanah partikelir Tanjung Timur pada tanggal 9 dan 10 April 1916, 18 April 1916 (Arsip Nasional Republik Indonesia)

Sumber internet :
http://berdikarionline.com/sisi-lain/historia/20111103/entong-gendut-pendekar-pejuang-kaum-tani.html
http://id.wikipedia.org/wiki/Daftar_perguruan_silat
http://silatindonesia.com/2008/09/entong-gendut-pendekar-condet/
http://tyoo-smansa.blogspot.com/2010/04/perlawanan-petani.html
http://ibnu-umar-junior.blogspot.com/2013/05/entong-gendut-pemuda-condet-pahlawan.html
[1] Berita acara dibuat oleh Asisten Wedana Pasar Rebo, Meester Cornelis (R.Pringgodimedjo), 17 April 1916
[2] Laporan dari Asisten Residen Meester Cornelis (D. Heyting) tentang pemberontakan di tanah partikelir Tanjung Timur pada tanggal 9 dan 10 April 1916, 18 April 1916

- -