Select Menu
Select Menu

Favourite

BSI

Opini

Kontributor

Wisata

Komunitas

Sosok

Resensi

Seni Budaya

TV Inspirasi


Tim Ekspedisi NKRI Peneliti Sosial Budaya (SOSBUD) melakukan pemetaan kondisi sosial  didesa Wendewa Utara, Kecamatan Mamboro, Kabupaten Sumba Tengah. Kecamatan Mamboro berada dibagian utara pulau Sumba.  Fokus lokasi penelitian dilakukan didusun Mananga.  Hal ini dikarenakan dusun Mananga memiliki keunikan dengan konsentrasi masyarakat Islamnya.

"Kami ingin mengetahui sejarah masuknya Islam ditanah  Sumba" . Ujar Faisol mahasiswa UGM yang tergabung dalam Tim Peneliti Sosial Budaya.  Ia menambahkan Dusun ini merupakan pusat pemukiman Islam,Konon daerah ini merupakan Kota pertama pada jaman dahulu sebelum ada kota-kota besar yang muncul”.Sekitar 90% penduduk Mamboro beragama Islam. Kebanyakan berasal dari wilayah Ende, Bima, dan Sumbawa. "Yang saat ini ada merupakan generasi keempat sampai kelima sehingga akulturasi budaya sangat terasa”. Jejak sejarah islam nampak dari salah satu Masjid yang ada di Mananga. Menurut bapak H. Imam salah satu pemuka agama di Mananga, Masjid ini menjadi yang pertama diwilayah Sumba Tengah.

Kebanyakan desa-desa di kecamatan Mamboro merupakan daerah pesisir pantai. Dari Mamboro ada jalur yang menghubungkan ke 3 Kota besar yang berbeda Anakalang Sumba Tengah, Waikabubak Sumba Barat, dan Waingapu Sumba Timur. Walaupun saat perjalanan menuju Mamboro dari Kota besar menunjukan Wilayah Mamboro yang sangat pelosok, Mamboro terhitung wilayah yang sudah maju. Bahkan didusun Menanga ada 2 tempat fotocopy dengan bangunan dari bambu yang dekat dengan sekolahan dan kantor Desa. Wilayah disini termasuk dalam daerah Pantura (Pantai Utara ).
"Dari sini bisa melihat daerah Pelabuhan Bajo dan Pulau Komodo. Dengan menggunakan perahu nelayan hanya butuh waktu 5 - 7 Jam sampai disana" Tambah Bapak Yasin.  (Tim Media Expedisi NKRI 2015)


Subkorwil Sumba Barat Daya - Tim Kehutanan Ekspedisi NKRI 2015. Melakukan penelitian sejak Februari dengan memasuki hutan-hutan di Sumba yang rata-rata memiliki vegetasi tanaman pinang. Tanaman pinang memiliki nama latin Areca Catechu merupakan salah satu tanaman tropis yang cukup populer di Indonesia. Keberadaannya secara geografis tersebar diseluruh Asia Selatan dan Asia Tenggara seperti Thailand dan India.

"Rata-rata dihutan Sumba Barat Daya terdapat pohon pinang ada yang bergerombol dan ada juga disela-sela pepohonan lain" Ujar Heida Tim Kehutanan Ekspedisi NKRI Subkorwil 5/Sumba Barat Daya.

Tanaman yang termasuk jenis palem–paleman atau Arecaceae tersebut memiliki banyak manfaat bagi kehidupan sehari–hari. Tanaman Pinang menjulang tinggi rata-rata 10m sampai dengan 15m yang sudah berbuah. "Pinang itu bukan pohon soalnya tidak berkambium" jelas dari Kustanti.
Kambium adalah yang mengantarkan air dari tanah ke tanaman, Karena saat di sayat bagian batang tanaman pinang tidak mengeluarkan getah’’ Tambah Heida menjelaskan.
Pinang dijual dipasaran Sumba Rp. 5000,-/bungkus plastik yang berisikan 20 sampai 30 pinang sepaket dengan kapur putihnya. Menurut warga sekitar orang pertama yang baru mencoba pinang akan merasa mabuk apabila belum cocok kepala pusing dan lidah akan terasa tebal. Namun bagi yang sudah terbiasa pinang sudah menjadi pengganti makanan ringan atau sekedar iseng-iseng.


Ekspedisi NKRI selain menggali potensi yang ada didaerah meliputi flora dan fauna serta kekayaan alam yang belum diberdayakan. Juga melaksanakan pengabdian kepada masyarakat, Melalui kegiatan pembangunan karakter dan bela Negara, Penyuluhan keluarga berencana (KB), Keluarga pra-sejahtera, Penyuluhan kelestarian sumber daya alam, Pengobatan massal, Bakti sosial, Karya bakti infrastruktur sekolah dan tempat ibadah, Kegiatan sanitasi lingkungan, Serta pemberdayaan ekonomi masyarakat.(Tim Media  Ekspedisi NKRI 2015)


Tim Geologi Ekspedisi NKRI 2015 Menemukan Kerangka Manusia saat melakukan penelitian Goa Wewewa di Waimanu, Sumba Tengah.(19/04/2015).Pagi itu Maiwarman dan Aditya Tim Geologi Ekspedisi NKRI Subkorwil 5/Sumba Barat Daya melakukan eksplorasi goa dengan melakukan pengukuran debit air dan pemetaaan goa. Karena goa Wewewa memiliki sungai bawah tanah dengan lumpur setebal pinggang orang dewasa membuat tim ekspedisi terpaksa harus membatalkan pemetaan.

Tim akhirnya melanjutkan kegiatan pemetaan dengan melakukan photography goa. Pada saat pemotretan, Tim dokumentasi menemukan kerangka manusia dalam keadaan utuh didalam goa, yang diperkirakan berjenis kelamin laki laki.Akhirnya Tim Geologi mengevakuasi kerangka tersebut ke atas goa dengan teknik Single Rope Technique (SRT) dan melaporkannya ke Polsek Katikutana. Goa Wewewa memiliki kedalaman + 80 meter, membutuhkan waktu 2 Jam untuk mengevakuasi Kerangka yang ditemukan dari dalam goa.

Goa Wewewa berada didalam Hutan yang jauh dari pemukiman warga letaknya  perbatasan Sumba Tengah dan Sumba Barat. Konon dinamakan goa Wewewa dulu ada salah satu orang Wewewa yang hilang didalam goa saat mencari sarang walet ". Ungkap Amarudi warga setempat.
Brigadir Polisi Juari Rahman selaku Dantim Tim Geologi Ekspedisi NKRI 2015 Subkorwil 5/Sumba Barat Daya menduga tulang tersebut berhubungan dengan orang Wewewa yang diceritakan hilang dalam goa oleh masyarakat setempat.
Kegiatan Ekspedisi melibatkan 1.227 personel, Terdiri dari berbagai elemen bangsa seperti TNI, Polri, Para Ahli (Peneliti), Mahasiswa (Akademisi), Pemda dan Masyarakat. Pelaksanaan Ekspedisi berlangsung sejak tanggal 5 Februari dan berakhir pada tanggal 5 Juni 2015. Ekspedisi 2015 adalah yang ke-5 setelah Sumatera, Sulawesi, Maluku dan Kalimantan.


Ekspedisi NKRI selain menggali potensi yang ada didaerah meliputi flora dan fauna serta kekayaan alam yang belum diberdayakan. Juga melaksanakan pengabdian kepada masyarakat melalui kegiatan pembangunan karakter dan bela Negara. Penyuluhan keluarga berencana (KB), Keluarga pra-sejahtera, Penyuluhan kelestarian sumber daya alam, Pengobatan massal, Bakti sosial, Karya bakti infrastruktur sekolah dan tempat ibadah, Kegiatan sanitasi lingkungan, Serta pemberdayaan ekonomi masyarakat. (Tim Media Ekspedisi NKRI 2015)