Select Menu

.

.

Slider

Seputar Kampus

Kontributor

Cute

My Place

SLIDE

Racing

Videos

Oleh: Hanifah Qomariah

AGAKNYA judul tersebut menggelikan, bagaimana mungkin Ikhwan memberikan harapan palsu? Padahal lazimnya, Ikhwan itu adalah seorang aktivis da’wah yang aqidahnya lurus, ibadahnya benar, hatinya bersih, seluruh sendi kehidupannya selalu diniatkan semata untuk beribadah kepada-Nya. Menggapai kasih sayang sang pemilik kehidupan.

Tapi begitulah kehidupan dengan lika-likunya, begitulah da’wah dengan berbagai ranjaunya. Jika tidak berhati-hati dalam berucap, bersikap, berniat, bersiaplah masuk ke dalam langkah syetan yang beribu macam caranya. Termasuk memberikan harapan kosong, angan-angan.

Cerita cinta antara aktivis da’wah memang selalu mengundang tanya, ada apa dengan mereka? Kenapa bisa seperti itu? Mereka juga manusia biasa, betul memang. Tapi tak lantas menjadi sebuah pembelaan atas segala hal yang Alloh tak sukai.

Tersebutlah dua aktivis muda yang masih junior, ya ikhwan dan akhwat. Dua-duanya suka sastra, suka nonton film. Singkatnya hobi keduanya hampir sama dalam beberapa bidang. Ikhwan ini memang dekat dengan kami para akhwat, tapi ya begitu karena ada sesuatu yang kurang dengan anggota keluarganya. Dan kami yang senior memahami itu, sudah seperti adik sendiri saja.

Tetiba, setelah beberapa lamanya menjadi aktivis da’wah. Seringkali muncul di dunia maya itu, cerita berbalas komentar di timeline masing-masing. Apapun itu, berbalas puisi, quotes atau meminjam buku-buku terbitan baru. Berseliweran di hadapan mata para senior, cerita tentang ikhwan-akhwat junior itu.

Dan selalu pada akhirnya, akhwat yang akan mengaku jatuh hati. Merasa, dialah ikhwan satu-satunya yang kelak akan mendampingi hidupnya hingga ajal menjemput. Merana, lupa dengan amanah-amanah da’wah, atau juga menjadi segan untuk sekadar setor muka di depan teman aktivis da’wah yang lain. Padahal, belum tentu mereka tahu atau bisa membaca apa yang ada dalam hatinya bukan?

Ah sayang sekali, dan yang lebih parah lagi jika katanya ada keyakinan yang kuat dalam hati membingkai namanya dalam hati. Dan menganggap ikhwan itu pun merasakan hal yang sama atau lebih ekstrem lagi menyebutkan Ikhwan itu telah mengungkapkan perasaan sukanya lewat kiriman kata-kata puitis.

Tapi, apa benar begitu? Setelah para senior merasa gelisah dengan perkara yang sepertinya sepele tapi berdampak besar untuk kemajuan da’wah. Diadakanlah sebuah cek dan ricek alias tabayyun, kepada sang Ikhwan yang telah membuat sang akhwat merana.

Begitu rasanya jadi tetua (senior, red.), harus mau mengorbankan diri bertanya yang sebenarnya risih ditanyakan. Apa jadinya jika pertanyaan, “Antum suka sama akhwat itu?” Terdengar sangat to the point, tapi apalagi yang mau dipertanyakan jika pada intinya memang itu. Lalu antara berucap syukur dan merasa kasihan, ikhwan itu menjawab dengan nada terkejut. “Suka sama akhwat? Gak ukh, sepertinya ada salah paham. Ana ngerasanya komunikasi biasa aja, lagian juga selama ini ana gak pernah melakukan hal-hal yang istimewa semisal ngajak nonton atau pergi bareng ke tempat makan. Memang pernah pergi bersama tapi banyakan, gak berdua.”

Senior pun berkerut kening, berusaha mempercayai ucapan yang baru saja dilontarkan sang ikhwan. Ah, kasihan sekali akhwat yang merasa dirinya istimewa padahal biasa saja, merasa dianggap spesial padahal juga sama saja dengan yang lainnya, merasa dicintai padahal juga tidak.

Betul ucapan Tere Liye, saat kita suka dengan seseorang terkadang kita terlalu banyak membuat kesimpulan-kesimpulan sendiri hingga kita tidak tahu mana simpul nyata dan simpul dusta. Ah, cinta.

Maka akhwat, berhati-hatilah dengan hati. Jangan sampai kejernihannya mengeruh karena arus asmara yang dibuat sendiri, membesar dengan sendirinya lalu menenggelamkan diri hingga pada akhirnya bekas-bekas tenggelamnya akan berdampak pada pikiran dan berujung pada perbuatan. Berusaha untuk selalu bersikap biasa saja dalam menanggapi banyak hal, karena terkadang mata kita bisa dibutakan oleh sesuatu yang bernama hawa nafsu.

Titip juga untuk para ikhwan, agar menjaga lisan dan pandangan. Agar tidak ada yang merasa diistimewakan karena pujian, tidak merasa diperhatikan betul-betul lekat hingga menganggapnya sebagai tanda rasa suka. Menghindari berkirim pesan atau apapun dalam berkomunikasi di dunia maya jika tidak terlalu penting. Karena pesan-pesan itu tanpa ekspresi dan emosi, ia akan memiliki sifat keduanya dengan perasaan si pembaca pesan. Karena darinya akan muncul bunga-bunga cinta yang bisa jadi berubah menjadi duri bagi aktivis da’wah.

Hindari, karena bagi akhwat kata yang indah satu saja itu adalah sebuah anugerah yang istimewa di hatinya. Tentu masih ingat bukan? Akhwat akan lebih mengutamakan penggunaan hati atau perasaan dibanding logika. Hati-hati, jangan sampai tidak ada niatan PHP tapi jadi nge-PHP-in. [islampos.com]
-

Sabtu (18/10) pagi, tepatnya pukul 08.00 WIB, Kampus BSI cabang Kalimalang telah ramai oleh mahasiswa dari berbagai kampus. Tak hanya dari BSI, juga ada dari STIE Adikarya dan STMIK Bina Insani. Selain mahasiswa, juga hadir siswa-siswi SMA maupun SMK di kampus yang beralamat di Jl. SMA Kapin No. 292 A, Kalimalang, Jakarta Timur ini. Diantaranya siswa dari SMK Terartai Putih, SMKT Kapin, SMA Kapin, dan SMK Kawula Indonesia.

Acara seminar kebangsaan ini telah dilaksanakan sebanyak tiga kali di cabang-cabang kampus BSI. Yang pertama di BSI Kaliabang, kedua dan ketiga di BSI Kalimalang. Tentunya setiap seminar dilaksanakan dengan tema yang berbeda dan narasumber yang juga berbeda. Kali ini, BSI mengangkat tema “Sumpah Pemuda Sebagai Momentum Pembentukan Karakter Bangsa Yang Bermartabat” dan menghadirkan narasumber-narasumber yang tentunya selaras dengan tema yang diangkat dalam seminar kebangsaan kali ini. Yaitu H. Syamsul Bahri, MM, M.Kom, selaku Pudir III Bidang Kemahasiswaan BSI, juga ada Tommy Kurniawan, publik figur yang tak asing lagi oleh kita, dan Agung Solihin, Trainer SCB. Dan Ahmad Yani, selaku moderator acara ini.

 “Memberi pencerahan pada generasi muda, cinta bangsa, dan negara, juga untuk mengembangkan rasa nasionalisme.” Kata Ahmad Yani, saat ditanyai mengenai tujuan acara. “Acara ini juga sebagai ajang promosi BSI untuk para siswa undangan, agar mereka tau, di BSI itu beda, tidak ada ospek seperti yang umumnya mereka bayangkan.” Tambah Slamet Heri, koordinator bidang kemahasiswaan BSI.

Dalam proses menyelenggarakan seminar ini, tentu saja panitia menghadapi kendala. “Pihak BSI mengundang banyak sekolah dan perguruan tinggi lain, namun belum begitu banyak perwakilan yang datang untuk menghadiri seminar ini.” Ungkap Slamet.  “Alasan kami mengundang Tommy Kurniawan, selain untuk daya tarik, beliau kan juga representatif mewakili pemuda. Sedangkan Agung Solihin , beliau mampu membangkitkan semangat anak-anak.” Tambahnya.

Dalam seminar ini, juga terdapat doorprize untuk 15 peserta beruntung. Hadiah tersebut diantaranya merupakan kado, flashdisk, dan tablet. “Seminarnya bagus, memotivasi jiwa muda. Juga ada siswa SMA, mereka kan penerus bangsa.” Kata Winda, perwakilan Senat Mahasiswa Kramat 18. Acara ini berlangsung sampai dengan pukul 12.00, setelah dilakukan foto bersama, peserta dapat mengambil sertifikat saat keluar dari ruang seminar.

“Semoga seminar ini dapat berkesinambungan dan lebih besar lagi.” Kata Ahmad Yani, moderator sekaligus Ketua Panitia Penyelenggara Seminar Kebangsaan. “Juga perlu dilestarikan dengan tingkatan lebih bermanfaat, silaturahmi antar elemen juga lebih terjalin. Dan peserta lebih banyak lagi dari berbagai kalangan.” Tambah Slamet, sebagai pembawa acara pada seminar ini. (marissa)

- -



“Dobrak! Dobrak! Dobrak! Kita harus dobrak pintu ini. Harus! Dobrak! Dobrak!” teriak seorang lelaki bernama Mutholib berusaha mendobrak pintu sebuah ruangan penjara bawah tanah yang lembab dan jauh dari peradaban. Ruang penjara bawah tanah inilah yang dibawa oleh Zak Sorga, sebagai penulis naskah dan sutradara, ke atas pentas Gedung Kesenian Jakarta 21 hingga 23 Oktober mendatang.

Naskah yang awalnya berjudul Melawan Arus ini ditulis pada tahun 1999 sebagai respon atas kondisi di sebuah negeri dimana tiran dan kekuasaan menjadi dominan, menginjak rakyat yang ratusan juta banyaknya, namun termarjinalkan. Merasa tema ini masih aktual dan timeless, Zak Sorga kemudian menulis ulang naskah pada tahun 2009. Dengan pemantapan struktur dan akhir ceritanya, naskah ini kemudian bertransformasi dengan judul Penghuni Kapal Selam.

Analogi penjara bawah tanah sebagai kapal selam, dimana penghuninya jauh mencapai permukaan, agaknya tepat karena dalam kehidupan nyata banyak orang yang dibungkam dan tak jelas rimbanya, mereka seperti hilang ditelan bumi. Massa dan berita mudah muncul dengan segala opininya, mudah pula tenggelam, begitu seterusnya seperti buih.

Dengan didukung oleh pemain yang berasal dari berbagai latar belakang dan usia, Penghuni Kapal Selam berisikan sepuluh orang ‘berbahaya’ dan pengintimidasi yang culas; Abdul Ghofar, aktivis dakwah senior dengan karakternya yang tenang dan berwibawa, ia adalah orang yang paling ditakuti oleh para sipir; Abdul Muthalib, politikus tua yang stres berat karena dipenjara bertahun-tahun, selalu menggedor-gedor pintu sel, sambil mengacungkan pisaunya dan berteriak-teriak ingin membunuh orang yang telah menangkapnya; Jerio, orator dan aktifis politik yang ambisius, selalu bermimpi jadi orang besar yang akan memimpin negeri ini, berlagak suci dan kuat, padahal sejatinya dia suka menangis sendirian karena menyesali nasibnya; Yon, aktivis dakwah, dipenjara sejak muda, wajahnya bopeng akibat siksaan dan disunduti rokok oleh para algojo saat diinterogasi, ia labil dan gampang percaya pada kebaikan orang; Kukuh, mahasiswa separuh gila akibat siksaan saat diinterogasi, ia selalu ketakutan dan terus berlari-lari karena merasa dikejar-kejar oleh aparat;

Pi’i, mantan tukang es yang bercita- cita untuk terus jualan es kalau sudah bebas nanti; Prawoto, mantan pemimpin perampok yang ingin bertobat, tapi malah diciduk dan dijebloskan dalam penjara, ia telah disiksa sampai buta; Sokle, tukang bengkel elektronik yang dituduh sebagai penggerak massa, jalannya menggelesot-gelesot karena kakinya lumpuh akibat siksaan; Sang Sipir, merasa berkuasa dan kuat dengan mengintimidasi para tahanan, namun dalam hati bertanya siapa yang terpenjara; Juru Runding, berpenampilan perlente, dia pintar sekaligus licik; Si Kutu Buku, pendiam dan misterius.

Siapa sebenarnya para penghuni penjara bawah tanah itu? Siapa pula yang menjebloskan mereka? Sampai kapan mereka diasingkan? Apa pula yang dicari di negeri penuh kepalsuan dan kekerasan tanpa mengenal waktu? Melalui Penghuni Kapal Selam, Teater Kanvas menyuguhkan suatu tontonan satir nan segar yang bisa jadi perenungan banyak orang. (teater-kanvas)
-