Select Menu

.

.

Slider

Seputar Kampus

Kontributor

Cute

My Place

SLIDE

Racing

Videos


Sudah hampir 7 bulan berlalu dari penetapan Presma dan Wapresma BEM BSI yang disahkan melalui musyawarah IKBM yang dimotori oleh KPU dan MPM. Sebagai calon tunggal, Andri-Noval menuliskan sejarah baru Di IKBM BSI. Ya, aklamasi. Namun setelah beberapa bulan berlalu, BEM seakan hilang gaungnya. Kemana mereka?

Dalam grand design prokernya, BEM mencanangkan 3 program unggulan yaitu membangun relasi dengan Mahasiswa, Lembaga dan Masyarakat. Mengsusung tagline Intelektual Progressif, BEM justru dinilai lamban. Jika periode kepengurusan berakhir sampai Desember tahun ini atau januari 2015 nanti, maka waktu produktif hanya tersisa sekitar 5 bulan kepengurusan. Dengan rentang waktu tersebut, progress dalam perealisasian program kerja akan dirasa kurang optimal. 7 bulan berlalu, BEM masih saja sibuk dengan pembenahan struktur intern saja. Isu upgrading seakan terus menjadi alibi.

Berkaca pada pengalaman BEM tahun-tahun sebelumnya, BEM 2014 harusnya bisa belajar banyak. Dimana konsistensi untuk merangkul elemen IKBM harusnya dijadikan  budaya kerja. Jangan sampai kegagalan KPU dan MPM menjadi penyelenggaraa pemira di BSI tahun ini menjadi kegagalan sistemik pada BEM yang dimotori oleh Andri-Noval yang notabenenya sebagai calon tunggal. BEM lahir sebagai mediator mahasiswa yang harus siap dikritisi lantas bekerja nyata

Stagnan Akut ?
BEM 2014 seakan masih mencari jati diri. Hitungan bulan berlalu dan belum ada kerja nyata yang dampaknya bisa dirasakan langsung oleh mahasiswa. Mahasiswa yang kurang updet atau BEM yang ‘mogok’ dijalan? Pertanyaan tersebut menjadi pertanyaan general yang hanya bisa dijawab oleh BEM itu sendiri. Sejauh ini, BEM hanya terkonsentrasi pada sosialisasi door to door  dengan mendatangi organisasi-organisasi IKBM.

Optimalisasi Media Sosial
Ditengah krisis eksistensi yang melanda BEM 2014, justru muncul isu BEM di bekingi sebuah partai politik. BSI mengharamkan politik praktis di kampus. Namun tiba-tiba bukti yang di release seorang anggota group di social media mencuat ke permukaan. Seakan menjadi blunder untuk kepengurusan BEM, akun BEM BSI di jejaring social mempublish postingan berunsur pencitraan seorang politikus kader Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Hal tersebut menjadi catatan merah di awal kepengurusan BEM. Sebagian menilai akan lebih bijaksana apabila BEM mengoptimalkan fungsi jejaring social untuk sarana informasi terkait perkembangan kinerja BEM, bukan pencitraan partai politik. 

Akun jejaring social dan web blog BEM akan menjadi media efektif apabila dioptimalkan  secara cerdas dengan substansi yang sarat informasi, mengingat persentasi penggunaan media sosial di kalangan mahasiswa sangat tinggi.Tapi nyatanya akun BEM BSI (intelektual progresif) disalah satu media sosial sepi sepi saja minim informasi, web blog pun bernasib serupa.BEM mungkin tidak bisa mendatangi langsung satu persatu seluruh mahasiswa BSI yang jumlahnya puluhan ribu. Justru dengan mengoptimalkan media sosial, BEM tetap bisa merangkul mahasiswa BSI. Ditengah keterbatasan organisasi, informasi bisa tetap ter-share sekaligus sebagai announce bahwa BEM BSI itu 'ada'. Tinggal bagaimana internal BEM mensiasati untuk menciptakan media yang komunikatif sehingga ada feed back langsung antara BEM dan mahasiswa umum, minimal dari lingkup UKM dan Senat. Bukankah tagline mereka intelektual progressif ? 

Mahasiswa BSI, sejauh ini, masih menunggu kerja nyata dari sebuah lembaga mahasiswa BEM BSI. fungsi aspirasi, advokasi, koordinasi, katalisator, inisiator dan fasiltator harusnya bisa terealisasi secara utuh apabila BEM itu sendiri bergerak harmonis membentuk budaya kerja yang terstruktur dan sistematis sehingga makna dalam tagline 'intelektual progresif' bukan omong kosong semata.*Zulfah Kudo

- - -
Petugas Polres Metro Jakarta Selatan dan Polsek Pasar Minggu menemukan narkoba, bom molotov dan sejumlah senjata tajam di sejumlah ruangan di Kampus Universitas Nasional (UNAS), Jakarta.

"Pihak kepolisian berkoordinasi dengan rektorat untuk masuk kampus karena ada info ditemukan bom molotov, senjata tajam dan ganja," kata Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Polisi Rikwanto di Jakarta, Kamis (14/8/2014).

Awalnya aparat Polres Metro Jakarta Selatan dan Polsek Pasar Minggu mengamankan seorang mahasiswa UNAS bernama Muhammad Hakim, 29. Ia diduga merusak dan membakar tujuh buah spanduk kampus, Senin (11/8/2014).

Pada Rabu-Kamis (13-14/8/2014), sebanyak 80 petugas kepolisian mengamankan aksi unjuk rasa sekitar 50 mahasiswa di UNAS. "Mahasiswa meminta temannya yang ditahan dikeluarkan dan ingin menginap di kampus. Padahal aturannya tidak diperbolehkan," ujar Rikwanto.

Pihak kampus menutup dan mengunci gerbang utama pukul 22.00 WIB. Tidak lama kemudian mahasiswa meninggalkan lokasi. Kepolisian berkoordinasi dengan rektorat untuk menggeledah kampus karena ada info penemuan barang terlarang.

Saat itu polisi menemukan lima buah batu, 5 kg daun ganja dan satu kantong plastik berisi paket ganja siap edar di Ruang Senat Mahasiswa. Polisi juga menemukan alat hisap sabu dan aluminium foil di ruang FISIP, empat botol molotov di semak bambu, satu linting ganja dan dua bilah parang dalam mesin pendingin di Gedung Serba Guna.

Di Gedung Serba Guna aparat menyita botol minuman keras kosong dan satu botol air mineral berisi bahan bakar minyak, dua buah bong, jarum suntik, cangklong, kertas aluminium foil, mandau, plastik kosong untuk paketan narkoba jenis putaw, lintingan ganja dan botol minuman, serta timbangan. Polisi memasang garis polisi.

Di Ruang Senat, polisi kembali menemukan sebilah kapak di Ruang Senat, sebilah samurai, sebilah pisau, bong, paket plastik berisi ganja, satu paket ganja, dua unit timbangan elektronik dan parang sepanjang 60s entimeter di lantai dasar.

Rikwanto menegaskan, petugas akan mencari pemilik barang terlarang tersebut dan kembali menyisir lokasi lain. Pihak kepolisian menduga Kampus UNAS terindikasi menjadi tempat peredaran narkoba dan praktik prostitusi lima tahun lalu.

Rikwanto menyebutkan kelompok mahasiswa yang berunjuk rasa itu sering menentang kebijakan rektorat Unas dengan bertindak anarkistis. Kelompok itu juga tidak mau meninggalkan ruangan yang dijadikan tempat penyimpanan barang bukti narkoba.
(Dor)
-
Video Profile LPM Inspirasi BSI yang selalu ditayangkan pada asaat presentasi UKM LPM BSI